Warga Geram! Dugaan Pembuangan Limbah dan Rencana Akses RS Viola Ke Permukiman Picu Ledakan Protes

TEROPONG HUKUM NUSANTARA ( THN ) Bekasi – Kemarahan warga RW 024, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, terhadap aktivitas pembangunan dan operasional Rumah Sakit Viola kian membara. Setelah muncul dugaan pembuangan limbah cair ke saluran lingkungan warga serta bau menyengat dari exhaust fan rumah sakit yang mencemari udara sekitar, kini warga juga menolak rencana pelebaran akses RS Viola yang diduga akan diarahkan ke bagian belakang—menuju area padat permukiman.

Persoalan ini tak hanya dianggap sebagai gangguan semata, tetapi telah memicu kekhawatiran warga terhadap dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Warga menilai tindakan pihak rumah sakit sebagai bentuk pelecehan terhadap ruang hidup masyarakat yang sudah lebih dari dua dekade menetap di wilayah tersebut.

Bau Menyengat & Air Bersih Terganggu

Dugaan pembuangan limbah cair yang mengalir ke saluran air warga menjadi pemicu awal keresahan. Warga mengeluhkan bau kimia menyengat yang menyeruak dari ventilasi udara rumah sakit (exhaust), hingga membuat kegiatan sehari-hari warga terganggu, bahkan membuat sebagian ibu-ibu menghentikan aktivitas senam pagi.

“Itu exhaust udara dari situ baunya menyengat sekali. Biasanya ibu-ibu di sini senam, sekarang jadi enggan karena bau rumah sakit bikin mual. Selain itu, air PAM juga kecil karena diambil RS pakai pipa ke toren mereka. Kami kesulitan, apalagi untuk air wudu,” jelas Ketua RW 024, Anwar, saat ditemui di lokasi, Sabtu (2/8/2025).

Tak hanya kualitas udara, pasokan air bersih warga juga terganggu. Air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan harian hingga ibadah kini sering tidak mencukupi. Warga menduga RS mengambil air menggunakan sistem pompa jet (zet-pump) yang ditanam di area bekas gedung TK dekat pemukiman.

Warga Tolak Keras Akses RS ke Permukiman

Puncak kemarahan warga terjadi saat beredar informasi bahwa pihak RS berencana membuka akses jalan ke arah belakang, yaitu ke wilayah perumahan RW 024. Rencana tersebut ditolak keras oleh warga, karena dinilai mengancam kenyamanan dan keamanan lingkungan tempat tinggal mereka.

“Kami menolak keras rencana pelebaran akses rumah sakit ke arah belakang. Ini wilayah perumahan, banyak warga yang sudah tinggal di sini lebih dari 25 tahun. Jangan ganggu kenyamanan warga. Silakan kembangkan ke depan, bukan ke belakang,” tegas Anwar.

Menurutnya, rencana pelebaran itu bukan sekadar isu teknis, namun menyangkut hak atas ruang hidup warga yang merasa mulai tersisih oleh kepentingan komersial rumah sakit.

Klaim Sepihak Pihak Rumah Sakit

Sebelumnya, pihak RS Viola mengklaim bahwa persoalan dugaan limbah sudah selesai dalam pertemuan dengan tokoh lingkungan, RT dan RW setempat. Namun pernyataan tersebut langsung dibantah warga yang menganggap klaim itu sepihak dan tidak mencerminkan realitas di lapangan.

“ITU TIDAK BENAR. Kami belum pernah menerima pihak rumah sakit secara resmi membahas atau menyelesaikan soal limbah ini. Pernyataan mereka justru menyulut kemarahan warga,” tambah Anwar.

Harapan Warga: Dinas Terkait Turun Tangan

Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi atau klarifikasi resmi dari pihak RS Viola terkait dugaan limbah maupun rencana akses jalan ke area belakang. Warga berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi dan dinas lingkungan hidup turun langsung ke lapangan untuk mengkroscek kondisi aktual serta melakukan tindakan tegas bila terbukti ada pelanggaran. ( Vance S )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *